Minggu, 31 Mei 2009

RSBI....?

Bulan Mei dan Juni adalah bulan paling sibuk sekaligus melelahkan bagi setiap orang tua yang memiliki anak di tingkat terakhir satuan pendidikan (kelas 6, 9, atau 12). Mereka harus mendampingi putra-putrinya dalam memilih sekolah. Dan bisa ditebak, sekolah mana yang paling banyak diminati...ya, tentu saja sekolah-sekolah favorit di masing-masing kota.merajuk

Mereka (orang tua dan anak) berpikir bahwa dengan bersekolah di sekolah favorit tsb akan mempermudah mereka meniti cita-cita. Ada yang memang memiliki kemampuan intelektual tinggi, namun ada pula siswa yang intelektual rendah tetap pede mencoba "peruntungannya." Dan ada pula orang tua/siswa yang hanya sekedar memburu prestise dengan mendaftar (dan berharap diterima sengihnampakgigi) di sekolah favorit.

Dan tahun ini ada semangat dan trend baru di dunia pendidikan tanah air, yaitu memburu bangku di sekolah berlabel RSBI (rintisan sekolah berstandat internasional). Katanya sih dengan bersekolah di RSBI akan mempermudah langkah mereka untuk kelak menuntut ilmu di "negeri orang" (emang negeri kita bukan negeri orang ? sengihnampakgigi). Berdasar hukum ekonomi : besarnya permintaan akan mempengaruhi besar harga jika persediaan sedikit/terbatas. Nah rupanya ini yang coba dimanfaatkan oleh beberapa sekolah dengan mengadopsi gaya "kamuflase kata" untuk menarik iuran/dana daari masyarakat setinggi-tingginya.

Lihat saja salah satu contoh di SMA favorit di Kediri (Radar Kediri, 29 Mei 2009), bermacam iuran/sumbangan dengan dalih meningkatkan fasilitas belajar siswa jika ditotal mencapai 5 - 7 juta rupiah fikir...sebuah jumlah fantastis untuk ukuran SMA di kota seperti Kediri yang masyarakatnya keanyakan adalah kelas menengah.

Patut dipertanyakan disini adalah : apakah sedemikian pentingnya sar-pras yang katanya untuk mendukung label RSBI tersebut ? Karena separo lebih dana tersebut dianggarkan untuk pengadaan LCD proyektor, TV, komputer dan AC. Sebandingkah perolehan "ilmu" yang diperoleh siswa denga segala fasilitas yang terkesan di-"ada-adakan" tersebut ?

Jadi.......WASPADALAH...dalam memilih sekolah. Karena ditengarai (berdasar beberapa pengamatan dan kesaksian) label RSBI hanya digunakan dalih unntuk "membuka" lembaga bimbel di sekolah. Perbedaan kelas RSBI dengan reguuler hanya terletak pada fasilitas semata, kurikulum dan cara penyampaian tetap sama. Betul ada beberapa mata pelajaran yang menggunakan bilingual, tapi ternyata hanya sebatas "basa-basi" macam : good afternoon, how are you de-es-be...penyampaian materi ? Tetap pakai bahasa Indonesia. Dan yang lebih parah sampai saat ini belum ada sekolah berlabel RSBI yang telah menjalin kemitraan dengan sekolah luar negeri (sebagai salah satu syarat bahwa lulusannya setara dengan sekolah luar negeri), sehingga kurikulumnyapun tetap kurikulum nasional.

Jadi ? Jangan bermimpi muluk untuk bersekolah di RSBI, karena :

1. belum ada standar baku yang memberikan bukti telah diakuinya lulusan sekolah tersebut berhak/setara dengan lulusan luar negeri

2. sampai saat ini (minimal untuk wilayah karesidenan Kediri) belum ada satupun sekolah RSBI yang telah menjalin kemitraan dengan sekolah luar negeri

3. jika tidak ada rencana melanjutkan bersekolah/kuliah di luar negeri, untuk apa bersekolah di RSBI ?

4. anda harus siap merogoh kocek paling dalam untuk bisa duduk di bangku sekolah RSBI. Dan yang terpenting, persiapkan fisik karena sepanjang hari di sekolah anda akan berada di ruang ber-AC. :ngacir:

2 komentar: