Sabtu, 19 Desember 2009

PEMBELAJARAN TEMATIK

Banyak model pembelajaran yang sudah diterapkan di dunia pendidikan kita, mulai dari model pembelajaran yang berpegang pada teori Behavioristik yang lebih menitikberatkan pada adanya stimulus respons, sehingga pembelajar bersifat pasif semacam ceramah ataupun modelling ; pembelajaran yang berpegang pada teori Kognitif yang terdiri atas tahap i) asimilasi (proses penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki individu siswa), ii) akomodasi (penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru), dan iii) equilibrasi (penyesuaian berkesinambungan antara proses asimilasi dan akomodasi) ; dan pembelajaran yang berpegang pada teori konstruktivistik yang mengedepankan adanya proses konstruksi manusia melelui interaksinya dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan yang berperan membentuk pengetahuan.
Kebudayaan barat yang lebih mengagungkan analisa logika membuat model – model pembelajaran terkotak – kotak dan lebih condong pada unsur kognitif tanpa menyentuh unsus – unsur afektif dan psikomotor. Barulah beberapa dekade ini ketiga unsur tersebut berusaha ditampilkan secara sinergis. Namun itupun hanya terbatas pada hal – hal terukur saja, yang lagi – lagi hanya bermuara pada kemampuan logika.
Pembelajaran terhadap suatu masalah hanya dititikberatkan pada satu bidang ilmu saja. Sebagai contoh, ketika kita membahas materi tentang rekayasa genetika, maka pembahasan cenderung hanya terfokus pada ilmu biologi saja. Kenyataan di lapanagan/dunia nyata, suatu hasil teknologi utamanya rekayasa genetika, mungkin pada saat pertama ditemukan dianggap sebagai suatu pemecahan terhadap berbagai masalah kemasyarakatan saat itu. Namun seiring perjalanan waktu, terbukti rekayasa genetika tersebut justru menimbulkan suatu permasalahan baru yang mungkin belum diperhitungkan saat itu.
Saat ini film Jurassic Park mungkin hanya suatu khayalan ilmiah belaka, namun bukan mustahil jika rekayasa genetika terus dikembangkan tanpa mempertimbangkan faktor – faktor lain, sosial misalnya, khayalan tersebut bisa menjadi kenyataan. Contoh gampang, adanya teknik “pejantan mandul” pada hama wereng. Perhitungan ilmiahnya/logika : jika “pejantan – pejantan mandul” ini dilepas ke alam dan menang bersaing dengan pejantan sejenis yang fertil dalam perkawinan, maka perlahan hama wereng akan berkurang secara “alami”. Namun terbayangkah seandainya jumlah pejantan mandul yang dilepas melebihi batas jumlah pejantan fertil ? Apa yang terjadi jika wereng betul – betul musnah ? Bagaimana dengan organisme lain yang menjadikan wereng sebagai makanan utama ? Bagaimana pula nasib organisme yang makanan pokoknya adalah predator wereng, dan seterusnya……dimulailah proses kiamat itu.
Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang tidak hanya berkutat pada satu bidang ilmu saja, namun juga melibatkan kemungkinan – kemungkinan lain berdasarkan pada pijakan ilmu – ilmu yang lain. Dan itulah pembelajaran tematik. Memang tidak ada suatu model/metode pembelajaran yang paling bagus, namun setidaknya pembelajaran tematik hadir untuk meminimalkan terjadinya kesalahan jika suatu masalah hanya didasarkan pada satu bidang ilmu saja.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

oye...terima kasih telah memposting ini. akan saya cobakan di sekolah saya supaya anak - anak antusias belajar