Minggu, 22 Maret 2009

UNAS yang menggelikan

Bulan-bulan ini adalah bulan dimulainya keresahan semua orang tua peserta didik yang duduk di kelas akhir satuan pendidikan, baik yang di kelas 6, kelas 9, maupun kelas 12. Bukan masalah krisis ekonomi yang kian menghebat dan tak ketahuan ujung pangkalnya dan kapan berakhirnya. Bukan pula karena bingung mau nyontreng siapa atau parpol mana pada pileg 9 april nanti. Apalagi bingung meimikirkan, melihat dan menghayati carut marutnya dunia perpolitikan di tanah air yang tak tentu siapa jadi kawannya siapa atau siapa jadi lawannya siapa.
Bulan ini adalah masa transisi, inkubasi, warming up dan segala istilahnya, hanya demi satu tujuan.........UJIAN NASIONAL DI DEPAN MATA.
Biarlah para caleg ribut berkoar meluapkan berjuta janji laksana hujan gerimis. Biarkan pula para birokrat yang berkarat dan politikus yang (sebentar lagi, jika sudah dapat kursi) melebihi polahnya tikus. Wahai para orang tua di seluruh dunia..........eh, ma'af..........di seluruh Indonesia (plus anak staf KBRI yang sekolah Inndonesia di luar negeri) bersatulah, galang dukungan untuk putra putrimu. Luput sedikit berarti mati......mati kesempatan mengenyam pendidikan yang berkualitas, mati emperoleh hak unntuk terus bersekolah.
Tahun ini jangan buang energi bapak-ibu dan putra-putri untuk demo menentang UN, percuma.........karena mereka yang di Jakarta dan gedung dewan, juga sibuk, bingung, was-was, curiga dan sebagainya dan seterusnya memikirkan cara untuk bisa duduk di kursi empuk legislatif dan pemerintahan (salahkan para pelaku illegal logging yang dengan keterlaluan membabat habis hutan sehingga kini perajin mebel kesulitan membuat kursi..andai kayu tidak cepat habis, tukang mebel bisa membuat kursi sejumlah orang yang sedang berebut kursi kekuasaan).
Bapak-ibu dan putra-putri tercinta, arahkan dan fokuskan tenaga dan pikiran sepenuh jiwa raga untuk meraih satu tujuan LULUS UJIAN NASIONAL.
Jika gegap gempita negeri ini telah selesai, mari kembali galang kekuatan menguji materiil UU yang digunakan untuk pembenaran pelaksanaan Ujian Nasional.
Di satu pihak UU tersebut memberi kewenangan guru dan sekolah untuk melakukan penilaian kepada peserta didik, namun penentu kelulusan adalah pemerintah dengan Ujian Nasionalnya. Bukan UU-nya yang salah, tapi semangat yang membuat UU itu laksana malaikat pencabut nyawa peserta didik yang selama tiga tahun penuh telah bersusah payah, bermandi keringat mengikuti pembelajaran sebagaimana yang digariskan oleh kurikulum. Namun apa daya, tiga tahun yang mengharu biru itu (karena anak bingung dengan materi pelajaran, orang tua yang bingung dengan segala tarikan biaya yang tidak masuk akal dan diuat-buat) lenyap tanpa bekas hanya dalam waktu empat hari yang menggetarkan. sehingga jangan salahkan jika :
1. anak berpikir apa gunanya mempelajari berbagai macam ilmu/mata pelajaran jika kelulusannya hanya ditentukan oleh empat bidang studi saja. Jadilah mereka bolos saat jam-jam belajar di sekolah.
2. orang tua mencari jalan pintas jika ternyata anaknya benar-benar tidak lulus UN dengan menghalalkan "suap", "koneksi", "katebelece" unnuk bisa masuk ke sekolah yang bonafit, mengajarkan nilai-niali anti-sportivitas dengan membimbing anak via hape (jika orangtuanya kebetulan guru, atau mendoktrin anak mencari "lirikan" kanan kiri demi mencapai target LULUS).
3. institusi sekolah ikutan menghalalkan segala cara demi mempertahankan "kinerja/predikat" sekolah bergengsi sekalipun itu menciderai semangat dan makna dari pendidikan itu sendiri.
Jadi jangan salahkan jika kelak para caleg dan politikus adalah generasi-generasi yang "patah moral, tanpa nyali" hanya bermodalkan janji dan seutas tali (kalau kalah dalam pemilu dan gak kuat menanggung malu.........tinggal gantung diri). Jangan salahkan pula jika di masa dewasa mereka, Indonesia menjadi pusat film-film berwarna biru.

Tidak ada komentar: